Motivasi Belajar

PPT tentang Motivasi Belajar ini merupakan tugas yang saya buat ketika menempuh matakuliah Media Pembelajaran Geografi yang diampu oleh Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd.

Berikut kajiannya secara lengkap, bisa anda klik disini: Motivasi Belajar

 

Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Kepribadian Holistik siswa

Tugas yang saya buat ketika menempuh matakuliah Wawasan Pendidikan yang diampu oleh Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd. semester 2 pada saya menempuh studi S3 Pendidikan Geografi.

Rumusan Masalah:

  1. WHAT: Apa pendidikan karakter
  2. WHY: Mengapa harus ada pendidikan karakter
  3. WHEN: Kapan pendidikan karakter tepat diberikan
  4. WHO: Siapa yang harus diberi pendidikan karakter, siapa yang harus bertanggung jawab melakukan pendidikan karakter
  5. HOW: Bagaimana melakukan pendidikan karakter

Penasaran mau membaca kajiannya secara lengkap, silahkan anda klik disini: 1 Fix Syafril & Yuli IfanaPENDIDIKAN KARAKTER

Tantangan Filsafat Ilmu dalam Perkembangan Geografi

Tugas yang saya buat ketika menempuh matakuliah Filsafat Geografi yang diampu oleh Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. dan Syamsul Bachri, Ph.D semester 2 pada saya menempuh studi S3 Pendidikan Geografi.

  • Spesialisasi ilmu geografi ini, meminjam istilah Strahler (1984) merupakan sebuah bentuk kepakaran dari seorang ilmuwan geografi. Hal itu pun, juga merupakan konsekuensi logis, dari luasnya ruang lingkup kajian geografi.  Spesialisasi geografi tersebut, tidak saja, dalam bidang teknologi keilmuan (seperti SIG dan Pemetaan), tetapi juga dalam bidang-bidang spesialis lainnya.
  • Ada yang membedakan geografi dari sudut ‘kelembagaan’, yakni mengacu pada struktur jurusan di peguruan tinggi, geografi itu dipilah menjadi dua kelompok yakni geografi pendidikan dan geografi nonkependidikan (sains). Ada yang memilahnya berdasarkan disiplin ilmu, sehingga menjadi geografi manusia dan geografi fisik. Ada juga yang membedakan geografi dari sudut pandang filsafat keilmuan, sehingga menjadi geografi murni dan geografi terapan, Ada yang membedakannya dari sudut sistem berfikir, sehingga menjadi geografi ortodoks dan geografi terpadu.
  • Kecendrungan spesialisasi ilmu geografi semakin tajam (geografi fisik, sosial, dan teknik). Geografi tidak dimaknai sebagai suatu ilmu yang utuh. Hal ini menyebabkan tidak sedikit para geograf yang terjebak pada kajian ilmu bantu dan rumpun ilmu orang.

Penasaran mau membaca kajiannya secara lebih lengkap, anda bisa mengklih disini: Yuli Ifana_Tantangan filsafat ilmu dalam perkembangan geografi

PENGARUH BUDAYA TERHADAP JUMLAH DAN DISTRIBUSI PENDUDUK DI INDONESIA

BAB 1

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Jumlah penduduk dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini merupakan masalah yang cukup serius, tidak saja bagi negara-negara yang berkembang seperti Indonesia tetapi juga negara-negara lain di dunia ini. Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi sudah tentu menimbulkan masalah yang rumit bagi pemerintah dalam usaha mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup warga negaranya. Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Secara terus-menerus penduduk akan dipengaruhi oleh jumlah bayi yang lahir (menambah jumlah penduduk), tetapi secara bersamaan pula akan dikurangi oleh jumlah kematian yang terjadi pada semua golongan umur.

Kenyataan menunjukkan kelahiran bayi tiap hari lebih banyak bila dibandingkan dengan banyak kematian. Dengan demikian apabila peristiwa ini terus-menerus berlangsung maka jumlah penduduk didunia akan selalu bertambah. Untuk mengendalikan jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi, pemerintah mencanangkan suatu gerakan Keluarga Berencana Nasional dengan tujuan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.

Program KB  diadakan pemerintah untuk membatasi angka kelahiran. Kebanyakan dari masyarakat belum mengetahui pentingnya  program KB.  Mereka  menganggap bahwa anak adalah sumber rezeki, sehingga bagi mereka banyak anak maka akan banyak rezeki pula. Akan tetapi,  pada akhir-akhir ini masyarakat sudah mulai mengenal program tersebut. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial budaya karena penduduk, masyarakat dan kebuayaan sangat erat kaitannya dengan kehidupan  dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena dapat saling mempengaruhi.

Terjadinya penurunan angka kelahiran selama ini tidak hanya disebabkan oleh faktor  pelaksanaan program KB, akan tetapi, dengan disebabkan oleh faktor- faktor lain, misalnya faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor budaya. Secara teoritis motivasi untuk fertilitas yang lebih rendah diperoleh dari presepsi orang tua yang timbul karena beberapa perubahan kualitas hidup, misalnya pendidikan, penghasilan, migrasi, kesuburan, agama dan program KB. Iskandar dalam (Saleh, 2005: 6)

Pola budaya masyarakat pun dapat merubah perilaku fertilitas, seperti di Eropa pada tahun 1950-an umumnya para wanita bekerja penuh di rumah sebagai ibu rumah tangga. Namun setelah tahun 1990-an kaum wanita lebih banyak bekerja di luar rumah, akibat perubahan pola tersebut, sikap wanita terhadap perkawinan, keluarga dan tentang  jumlah anak pun berubah, termasuk penundaan usia kawin. Kottak dalam (Saleh, 2005: 6)

Perubahan pola budaya  masyarakat pun dapat merubah perilaku fertilitas (reproduksi), hal ini dipengaruhi oleh agama yang dianut, misalnya di Thailand umat Budha sangat mendukung penggunaan alat kontrasepsi dibanding umat Muslim, sehingga umat Budha lebih bersifat kondusif dibanding umat Muslim terhadap praktik  kontrasepsi dan pembatasan jumlah keluarga. Adanya perbedaan pandangan antara masing- masing kelompok budaya terhadap pelaksanaan program KB baik dari faktor sosial, ekonomi, budaya, efektivitas pelaksanaan program KB, fertilitas, pekerjaan dan produktivitas  ibu. Maka akibatnya hasil yang dicapai dalam usaha menurunkan angka kelahiran/fertilitas untuk masing- masing wilayahpun berbeda.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah kondisi pertumbuhan penduduk di Indonesia pada 10 tahun terakhir?
  2. Bagaimanakah usaha pemerintah untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk?
  3. Bagaimanakah pengaruh budaya terhadap jumlah populasi dan distribusi penduduk?
  • Tujuan Penulisan Makalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui hal- hal sebagai berikut.

  1. Kondisi pertumbuhan penduduk di Indonesia pada 10 tahun terakhir.
  2. Usaha pemerintah untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk.
  3. Pengaruh budaya terhadap jumlah populasi dan distribusi penduduk.

Penasaran mau membaca kajian tersebut lebih lengkap, silahkan anda mengklik dibawah ini:

  1. BAB II
  2. BAB III
  3. DAFTAR RUJUKAN

TAMANSISWA SEBAGAI PELOPOR PENDIDIKAN DI INDONESIA

Tugas yang saya buat ketika menempuh matakuliah Landasan Pendidikan yang diampu oleh Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd. semester 2 pada saya menempuh studi S2 Pendidikan Geografi.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemikiran cerdas Ki Hajar Dewantara untuk mendirikan sekolah Tamansiswa  jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan. Konsep Tamansiswa dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam  solusi  menyikapi  kegelisahan-kegelisahan rakyat terhadap kondisi pendidikan yang terjadi saat itu, sebagaimana digambarkan dalam asas dan dasar yang diterapkan Tamansiswa.

Tamansiswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik. Sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan (Wasis, 2011).

Menurut Ganis (2011), ”Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia semakin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya saing yang rendah dan terkenal sebagai negara follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia”. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia negara kita, agar dapat bersaing dengan negara-negara lain yang sudah maju pendidikannya. Rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang, baik pada jenjang pendidikan formal maupun nonformal. Hal itu yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Rendahnya kualitas sumber daya manusi di Indonesia diakibatkan oleh rendahnya mutu pendidikan yang ada sampai saat ini. Perbincangan mengenai rendahnya mutu pendidikan memang belum kunjung selesai, karena banyaknya variabel yang mempengaruhi mutu pendidikan. Evaluasi sistem pendidikan seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan pelaku pendidikan secara terus menerus, agar mengetahui titik lemahnya dan segera dapat mencari solusinya. Sehingga pendidikan kita tidak lagi menghasilkan generasi yang bermental korup dan bermoral rendah.

Program pendidikan yang dicita-citakan bangsa kita begitu besar, namun  kesadaran pendidikannya masih sering tercium aroma komersial. Akibatnya, nilai-nilai pendidikan tergeser begitu jauh dari pusarannya. Sistem pendidikan Indonesia saat ini lebih menonjolkan hasil akademik daripada moral siswanya. Disisi lain masalah pendidikan juga  muncul dari kalangan pendidik yang lebih mengejar materi daripada kepentingan anak didiknya.

Kondisi tersebut seharusnya dapat dihindari apabila kita menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, karena pada pendidikan Tamansiswa dilaksanakan berdasarkan ”Sistem Among”, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.

Pada dasarnya hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan pada saat itu masih sangat relevan sampai saat ini. Oleh karena itu, salah satu solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan kita adalah dengan cara kembali menerapkan ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Masa depan pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia-manusia yang siap dan eksis untuk hidup di tengah-tengah perubahan zaman yang ada. Bukan terpengaruh tetapi mempengaruhi, tetapi kita juga tidak bisa menolak perubahan, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan, globalisasi dengan gejala dampaknya mau tidak mau akan kita hadapi. Seharusnya manusia tidak ikut lebur dalam arus yang menerpanya, melainkan mampu mengendalikan arus perubahan, mampu memilah dan sekaligus memilih ke mana kehidupan sebuah masyarakat akan dikendalikan dan diciptakan sesuai dengan tujuan pendidikan dalam hal ini adalah pendidikan islam.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

  • Bagaimana sistem pendidikan Tamansiswa yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu?
  • Apakah pendidikan Indonesia sekarang sudah menggambarkan pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu?
  • Bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang ideal di Indonesia?
  • Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui:

  • Sistem pendidikan Tamansiswa yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara.
  • Kondisi pendidikan Indonesia sekarang.
  • Sistem pendidikan yang ideal di Indonesia.

Penasaran mau membaca kajian tersebut lebih lengkap, silahkan anda mengklik disini:

  1. BAB II
  2. BAB III
  3. Daftar Pustaka